Recent Blog post

Archive for Desember 2019


MENJELASKAN PADA ANAK TENTANG CITA-CITA

Memupuk cita-cita anak sejak dini

Menumbuhkan cita-cita anak sejak dini. Sebagai orangtua kita pasti berharap agar cita-cita anak bisa diraih setinggi mungkin. Ada yang memiliki cita-cita anak menjadi dokter, pilot, pramugari, tentara, guru dan masih banyak lainnya. Tentunya butuh dukungan dan usaha dari kita sebagai modal mereka untuk meraih cita-cita anak kelak di kemudian hari.

Berikut ini beberapa langkah yang bisa kita berikan untuk memupuk cita-cita anak sejak dini yang mungkin masih belum mereka bayangkan saat ini. Sehingga sebagai orangtua kita juga perlu menggali potensi yang terpendam dalam diri anak-anak kita untuk mendapatkan porsi dan takaran yang tepat mengenai gambaran cita-cita anak apa yang kelak diinginkan oleh mereka.

Beri dukungan
Ada cita-cita anak yang bermimpi menjadi presiden, walaupun kita menganggapnya terlalu mustahil, tetapi Anda tidak boleh mengabaikannya. Berikan dukungan kepada mereka agar tumbuh rasa percaya diri sehingga mereka akan berjuang untuk mewujudkannya

Beri Tantangan
Berikan tantangan kepada anak-anak agar mereka bisa berpikir lebih luas dan berusaha untuk mencari jalan keluar dalam memecahkan masalah yang kita sodorkan, sehingga mereka akan terbiasa untuk berpikir lebih rasional.



Mengenalkan Dunia
Kenalkan dunia baru kepada anak-anak dengan mengajaknya menemukan berbagai hal baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, dan mengajak mereka bertemu dengan orang-orang baru. Tidak ada orang yang bisa mengubah dunia ini dengan hanya mengurung diri di rumah. Bawa mereka keluar untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan mereka sejauh yang bisa mereka cerna.

Budaya Membaca
Budayakan membaca karena membaca adalah jendela dunia. Semakin banyak pengetahuan yang terserap oleh anak-anak, mereka akan semakin berkembang lebih luas daya pikir dan kreatifitas mereka. Membaca bisa melalui buku maupun mengikuti perkembangan jaman dengan adanya internet.

Mengenalkan Tokoh Terkenal
Tidak ada salahnya bila anak-anak mengagumi tokoh atau pahlawan tertentu. Kenyataannya, itu bisa menjadi cara brilian agar mereka lebih terfokus pada cita-cita anak atau ambisi tertentu. Dorong anak-anak belajar bagaimana tokoh atau pahlawan favorit mereka mengukir prestasi mereka serta bagaimana para tokoh tersebut merintis karir mereka.

Bermain Peran
Permainan peran bisa mengasah kreatifitas anak. Biasanya anak-anak melakukan permainan peran ini secara naluriah. Namun, lebih baik lagi bila kita mendorong dan membuat skenario tertentu untuk mereka mainkan dengan sekelompok kecil teman-temannya.

Bermain Bersama
Anak-anak akan tumbuh semakin percaya diri dengan bersosialisasi dalam lingkungan bermainnya. Di sana, mereka juga belajar bagaimana cara mempengaruhi dan berinteraksi dengan sekitarnya.



Anak-anak masih suka berubah
Bila tiba-tiba cita-cita anak berubah, jangan mengoloknya. Justru ini adalah perkembangan pemikiran mereka setelah mencerna dan mengamati serta mencari tahu lebih dalam tentang cita-cita anak yang lama dan cita-cita barunya.

Bukan Materi
Mungkin cita-cita anak tidak setinggi harapan orangtua yang kadang berpikir tentang materi. Misal mengharapkan anak menjadi seorang direktur utama di sebuah perusahaan sedangkan sang anak bercita-cita anak menjadi seniman. Jangan remehkan cita-cita anak karena apapun karir mereka, kebahagiaan adalah kekayaan yang nilainya melebihi materi.

Semua Bisa Terjadi
Apapun cita-cita anak, jangan pernah menganggapnya tidak mungkin. Segalanya bisa saja terjadi. Jika ada kemauan pasti ada jalan. Selalu berikan dukungan positif terhadap anak-anak agar mereka bisa maju dan merasa mendapatkan dukungan. Itu adalah kekuatan mereka.




Rabu, 18 Desember 2019
0

“ LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN; PERKEMBANGAN
ANAK ”



 Besar harapan kami agar pembaca mampu memahami lebih jauh tentang berbagai
hal yang berkaitan dengan hal tersebut.
Akan tetapi, kami menyadari bahwa di dalam makalah ini, masih terdapat banyak
kekurangan yang tentunya mengakibatkan makalah ini masih dikatakan jauh dari sempurna.
Maka dari itu, kami harapkan pembaca dapat memaklumi serta memberi kritik dan saran
yang membangun demi terwujudnya makalah yang lebih baik di masa yang akan datang.

 Psikologi berkembang diawali dalam bidang filsafat yang dikenal sebagai induk dari
berbagai ilmu. Seorang ahli psikologi, Elizabeth B. Hurlock mengatakan bahwa anak
mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan berbagai karakteristik.
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa
ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak
selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran
sosial, kesadaran emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat. Perkembangan anak
optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap
perkembangan.
Psikologi perkembangan merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang
pertumbuhan dan perkembangan jiwa manusia baik dari lahir maupun sudah lanjut usia.
Inilah suatu signifikan dari perkembangan rohani manusia itu sendiri yang dialami sejak ia
lahir sampai menjadi dewasa. Dalam proses perkembangan rohani itu terjadi perubahan yang
terus-menerus.
Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua. Sebab, proses
tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika
perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan
orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri
mereka. Dan kelak, orangtua juga yang akan mengalami penyesalan yang mendalam.
Dampak negatif dari perkembangan anak yang kurang perhatian dari orang tuanya
adalah anak menjadi nakal dan susah diatur. Dan dampak lain yang ditimbulkan adalah
perusakan moral yang dialami anak yang kemungkinan diakibatkan dari salah bergaul dan
berteman. Dan akhirnya, anak-anak inilah yang membawa dampak buruk bagi temantemannya.
Salah satu perusakan atau penurunan moral yang dialami anak-anak pada saat ini.dengan melihat video yang seharusnya belum pantas ditonton pada usianya,perilaku
negatif ini juga disebabkan dari perkembangan teknologi khususnya internet. Yang akibatnya,
akan menurunkan prestasi belajar anak disekolah.

1. Pengertian Psikologi Perkembangan
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, psikologi perkembangan itu dapat diartikan
sebagai berikut:
· Psikologi perkembangan merupakan “cabang dari psikologi yang mempelajari proses
perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan
perilaku” (J.P. Chaplin, 1979).
· Psikologi perkembangan merupakan “cabang psikologi yang mempelajari perubahan
tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai
masa konsepsi sampai mati”(Rosta Vasta, dkk., 1992).
Jadi, Kedua pendapat di atas menunjukan bahwa psikologi perkembangan merupakan
salah satu bidang psikologi yang memfokuskan kajian atau pembahasannya mengenai
perubahan tingkah.

2.Hakikat Psikologi Perkembangan
Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang.
Bahkan sebelum Wundt mendeklarasikan laboratotiumnya tahun 1879 yang dipandang
sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke
masa Yunani Kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan
intelektual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di Benua Amerika
Sebelum mempelajari psikologi perkembangan, perhatian berawal pada pemahaman
yang mendalam pada anak-anak. Dasar pemikiran merujuk bahwa penelitian dan buku-buku
tentang anak sedikit, pemahaman terhadap seluk beluk kehidupan anak sangat bergantung
pada keyakinan dan tradisonal yang bersumber pada spekulasi para filsuf dan teolog tentang
anak dan latar belakang perkembangannya, serta pengaruh keturunan dan lingkungan
terhadap kejiwaan anak. Oleh karena itu, salah seorang filosof Plato mengatakan bahwa
perbedaan-perbedaan individual mempunyai dasar genetis. Potensi individu dikatakannya
telah ditentukan oleh faktor keturunan. Artinya, sejak lahir anak telah memiliki bakat-bakat
atau benih-benuh kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengasuhan dan
pendidikan.

3.Faktor-Faktor Perkembangan Anak
Dalam proses perkembangan anak dalam kenyataanya memang tidak dapat dihindari
adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya. Dalam proses perkembangan (psikisnya)
dari seorang anak. Adapun berbagai macam faktor yang mempengaruhi pertumbuhan organ
tubuh anak yaitu:
a. Faktor-faktor sebelum lahir, yakni adanya gajala-gejala tertentu yang terjadi sewaktu anak
masih didalam kandungan.
Contoh:
Adanya gejala/ peristiwa kekurangan nutrisi (zat-zat makanan untuk tubuh) pada ibu atau
janin, terkenan infeksi oleh bakteri, sifilis, TBC, diabetes mellitus, dan lain-lainnya.
b. Faktor pada waktu lahir, yakni terjadinya suatu gangguan pada saat-saat anak dilahirkanya.
Umpamanya:
Terjadi defiect (kerusakan) susunan saraf pusat dikarenakan kelahirannya dengan bantuan alat
sejenis tang (instrument birth), atau karena dinding rahim ibu terlalu sempit, maka terjadi
tekanan yang kuat mengakibatkan pendarahan pada bagian kepala, dan lain-lain.
c. Faktor sesudah lahir, yakni peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi setelah anak lahir,
terkadang menimbulkan terhambatnya pertumbuhan anak.
Contoh:
Adanya pengalaman anak yang traumatik (luka-luka) di kepala pada bagian luar atau dalam,
karena benturan dengan benda keras, kekurangan gizi/vitamin, dan masih banyak contoh
lainnya.
d. Faktor psikologis
Yakni Adanya kejadian-kejadian tertentu yang menghambat berfungsinya psikis, terutama
yang menyangkut perkembangan inteligensi dan emosi anak yang berdampak pada proses
pertumbuhan anak.
Adapun tentang faktor-faktor yang mempengaruhi anak antara lain adalaah:
a.Faktor herediter, yakni keturunan atau warisan sejak lahir dari kedua orangtuanya,
neneknya, dan seterusnya yang biasanya diturunkan melalu kromoson.
b. Faktor lingkungan, yakni segala sesuatu yang pada lingkungan dia berada atau bergaul.
Segala sesuatu yang berada diluar diri anak dialam semesta ini baik yang berupa makhluk
hidup atau makhluk yang mati.

4.Tahapan perkembangan anak
Perkembangan anak merupakan segala perubahan yang terjadi pada usia anak, yaitu
pada masa:
ØInfancy toddlerhood (usia 0-3 tahun)
ØEarly childhood (usia 3-6 tahun)
ØMiddle childhood (usia 6-11 tahun)
Perubahan yang terjadi pada diri anak tersebut meliputi perubahan pada aspek berikut:
ØFisik (motorik)
ØEmosi
ØKognitif
ØPsikososial
2.5 Karakteristik Fase Perkembangan Pada PraSekolah ( Usia Taman Kanak – Kanak )
dan Anak
5. FASE PRA SEKOLAH
1. PERKEMBANGAN FISIK
Perkembangan fisik anak ditandai juga dengan berkembangnya kemampuan atau
keterampilan motorik, baik yang kasar maupun yang lembut. Kemampuan motorik tersebut
dapat dideskripsikan sebagai berikut.
USIA KEMAMPUAN
MOTORIK KASAR
KEMAMPUAN MOTORIK
LEMBUT / HALUS
3 – 4
tahun
4 – 6
tahun
1. Naik dan turun tangga
2. Meloncat dengan dua kaki
3. Melempar bola
1. Meloncat
2. Mengendarai sepeda anak
3. Menangkap bola
4. Bermain olahraga
1. Menggunakan krayon
2. Menggunakan benda / alat
3. Meniru bentuk ( meniru
gerakan orang lain )
1. Menggunakan pensil
2. Menggambar
3. Memotong dengan gunting
4. Menulis huruf cetak
2. PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
Secara ringkas perkembangan intelektual masa prasekolah ini dapat dilihat pada tabel
berikut.
PERIODE DESKRIPSI
Praoperasional 1. Mampu berpikir dengan menggunakan simbol (symbolic
function).
2. Berpikirnya masih dibatasi oleh persepsinya. Mereka
meyakini apa yang dilihatnya, dan hanya terfokus
kepada satu atribut / dimensi terhadap satu objek dalam
waktu yang sama. cara berpikir mereka bersifat
memusat ( centering ).
3. Berpikirnya masih kaku tidak fleksibel. Cara
berpikirnya berfokus kepada keadaan awal atau akhir
dari suatu transformasi, bukan kepada transformasi itu
sendiri yang mengantarai keadaan tersebut. Contohnya:
Anak mungkin memahami bahwa dia lebih tua dari
adiknya, tetapi mungkin tidak memahaminya, bahwa
adiknya lebih muda dari dirinya.
4. Anak sudah mulai mengerti dasar – dasar
mengelompokkan sesuatu atau dasar satu dimensi,
seperti atas kesamaan warna, bentuk dan ukuran.
3. PERKEMBANGAN EMOSIONAL
Beberapa jenis emosi yang berkembang pada masa anak, yaitu sebagai berikut.
a. Takut, yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang dianggap membahayakan. Rasa
takut terhadap sesuatu berlangsung melalui tahapan:
(1) mula – mula tidak takut, karena anak belum sanggup melihat kemungkinan bahaya
yang terdapat dalam objek,
(2) timbul rasa takut setelah mengenal adanya bahaya, dan
(3) rasa takut bisa hilang kembali setelah mengetahui cara – cara menghindar dari bahaya.
b. Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya. kecemasan
ini muncul mungkin dari situasi – situasi yang dikhayalkan, berdasarkan pengalaman yang
diperoleh, baik perlakuan orangtua, buku – buku bacaan/komik, radio, atau film. Contoh
perasaan cemas: anak berda di dalam kamar yang gelap, takut hantu dan sebagainya.
c. Marah, merupakan perasaan tidak senang, atau benci baik terhadap orang lain, diri
sendiri, atau objek tertentu, yang diwujudkan dalam bentuk verbal ( kata – kata kasar /
makian / sumpah serapah ), atau nonverbal ( seperti mencubit, memukul, menampar,
menendang, dan merusak ). Perasaan marah ini merupakan reaksi terhadap
situasi frustasi yang dialaminya, yaitu perasaan kecewa atau perasaan tidak senang karena
adanya hambatan terhadap pemenuhan keinginannya.
Pada masa ini rasa marah sering terjadi karena:
(1) banyak stimulus yang menimbulkan rasa marah, dan
(2) banyak anak yang menemukan bahwa marah merupakan cara yang baik untuk
mendapatkan perhatian atau memuaskan keinginannya. Berbagai stimulus yang
menimbulkan perasaan marah, di antaranya: rintangan atas kebutuhan jasmaniah,
gangguan terhadap gerakan – gerakan anak yang ingin dilakukannya, rintangan terhadap
kegiatan yang sedang berlangsung, rintangan terhadap keinginan – keinginannya, atau
kejengkelan – kejengkelan yang menumpuk.
Sumber perasaan marah bisa berasal dari diri sendiri (seperti, ketidakmampuan dan
kelemahan/kecacatan diri), atau orang lain (orangtua, saudara, guru dan teman sebaya).
d. Cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut
kasih saying dari seseorang yang telah mencurahkan kasih saying kepadanya. Sumber yang
menimbulkan rasa cemburu selalu bersifat situasi sosial, hubungan dengan orang lain. Seperti
kakak cemburu kepada adiknya, karena dia telah merebut kasih saying dari orangtuanya.
Perasaan cemburu ini diikuti dengan ketegangan, yang biasanya dapat diredakan dengan
reaksi – reaksi:
(1) agresif atau permusuhan terhadap saingan
(2) regresif, yaitu perilaku kekanak – kanakan, seperti ngompol, atau mengisap
jempol
(3) sikap tidak peduli; dan
(4) menjauhkan diri dari saingan.
e. kegembiraan, kesenangan, kenikmatan, yaitu perasaan yang positif, nyaman, karena
terpenuhi keinginannya. Kondisi yang melahirkan perasaan gembira pada anak, diantaranya
terpenuhi kebutuhan jasmaniah ( makan dan minum ), keadaan jasmaniah yang sehat,
diperolehnya kasih sayang, ada kesempatan untuk bergerak ( bermain secara leluasa ), dan
memiliki mainan yang disenanginya.
f. Kasih sayang, yaitu perasaan senang untuk memberikan perhatian, atau perlindungan
terhadap orang lain, hewan atau benda.
Perasaan ini berkembang berdasarkan pengalamannya
yang menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain (orangtua, saudara, dan teman),
hewan (seperti, kucing dan burung), atau benda (seperti mainan). Kasih sayang anak kepada
orangtua atau saudaranya, amat dipengaruhi oleh iklim emosional dalam keluarganya.
Apabila orangtua dan saudaranya menaruh kasih sayang kepada anak, maka dia pun akan
menaruh kasih sayang kepada mereka.
g. Phobi, yaitu perasaan takut terhadap objek yang tidak patut ditakutinya ( takut yang
abnormal ), seperti takut ulat, takut kecoa, dan takut air. Perasaan ini muncul akibat perlakuan
orangtua yang suka menakut – nakuti anak, sebagai cara orangtua untuk menghukum, atau
menghentikan perilaku anak yang tidak disenanginya.
h. Ingin tahu ( curiosity ), yaitu perasaan ingin mengenal, mengetahui segala sesuatu atau
objek – objek, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Perasaan ini ditandai dengan
pertanyaan – pertanyaan yang diajukan anak. Seperti anak bertanya tentang dari mana dia
berasal, siapa Tuhan, dan di mana Tuhan berada. Masa bertanya ( masa haus nama ) ini
dimulai pada usia 3 tahun dan mencapai puncknya pada usia sekitar 6 tahun.
4. PERKEMBANGAN BAHASA
Perkembangan bahasa anak usia prasekolah, dapat diklasifikasikan ke dalam dua
tahap ( sebagai kelanjutan dari dua tahap sebelumnya ) yaitu sebagai berikut.
a. Masa ketiga ( 2,0 – 6,0 ) yang bercirikan :
1) Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.
2) Anak sudah mampu memahami tentang perbandingan, misalnya burung pipit lebih
kecil dari burung perkutut, anjing lebih besar dari kucing.
3) Anak banyak menanyakan nama dan tempat: apa, di mana dan dari mana.
4) Anak sudah banyak menggunakan kata – kata yang berawalan dan yang
berakhiran.
b. Masa keempat ( 2,6 – 6,0 ) yang bercirikan:
1) Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.
2) Tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal waktu sebab
akibat melalui pertanyaan – pertanyaan: kapan, ke mana, mengapa, dan bagaimana.
5. PERKEMBANGAN SOSIAL
Tanda – tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah:
a. Anak mulai mengetahui aturan – aturan, baik dilingkungan keluarga maupun dalam
lingkungan bermain.
b. Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
c. Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.
d. Anak mulai dapat bermain bersama anak – anak lain, atau teman sebaya (neer group).
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh sosiopsikologis keluarganya.
Apabila di lingkungan keluarga tecipta suasana yang harmonis, saling memperhatikan, saling
membantu ( bekerja sama ) dalam menyelesaikan tugas – tugas keluarga atau anggota
keluarga, terjalin komunikasi antar anggota keluarga, dan konsisten dalam melaksanakan
aturan, maka anak akan memiliki kemampuan, atau penyesuaian sosial dalam berhubungan
dengan orang lain.
Kematangan penyesuaian sosial anak akan sangat terbantu, apabila anak dimasukkan
ke Taman Kanak – Kanak. TK sebagai “ jembatan bergaul “ merupakan tempat yang
memberikan peluang kepada anak untuk belajar memperluas pergaulan sosialnya, dan
menaati peraturan ( kedisiplinan ).
6. PERKEMBANGAN BERMAIN
Usia anak pra sekolah dapat dikatakan sebagai masa bermain, karena setiap waktunya
diisi dengan kegiatan bermain. Yang dimaksud dengan kegiatan bermain disini adalah suatu
kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. Terdapat
beberapa macam permainan anak (Abu Ahmadi, 1977), yaitu sebagai berikut:
a. Permainan Fungsi (permainan gerak),
seperti meloncat-loncat, naik dan turun tangga, berlari-larian, bermain tali dan
bermain bola.
b. Permainan Fiksi ,
seperti menjadikan kursi sebagai kuda, main sekolah-sekolahan, dagang-dagangan,
perang-perangan dan masak-masakan.
c. Permainan Reseptif atau Apresiatif,
seperti mendengarkan cerita atau dongeng, melihat gambar dan melihat orang
melukis.
d. Permainan Membentuk (konstruksi),
seperti membuat kue dari tanah liat, membuat gunung pasir, membuat kapal-kapalan
dari kertas, membuat gerobak dari kulit jeruk, membentuk bangunan rumah-rumahan
dai potongan-potongan kayu (plastik) dan membuat senjata dari pelepah daun pisang.
e. Permainan Prestasi,
seperti sepak bola, bola voli, tenis meja dan bola basket.
Secara psikologis dan pedagogis, bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat
berharga bagi anak, di antaranya :
a. Anak memperoleh perasaan senang, puas, bangga atau berkatarsis (peredaan
ketegangan),
b. Anak dapat mengembangkan sikap percaya diri, tanggung jawab dan kooperatif (mau
bekerja sama),
c. Anak dapat mengembangkan daya fantasia tau kreativitas (terutama permainan fiksi
dan konstruksi).
d. Anak dapatmengenal aturan atau norma yang berlaku dalam kelompok serta belajar
untuk menaatinya,
e. Anak dapat memahami bahwa baik dirinya maupun orang lain, sama-sama
mempunyai kelebihan dan kekurangan,
f. Anak dapat mengembangkan sikap sportif, tenggang rasa atau toleran terhadap orang
lain.
7. PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Aspek-aspek perkembangan kepribadian anak itu meliputi hal-hal berikut.
a. Dependency & Self-Image
Konsep anak pra sekolah tentang dirinya sulit dipahami dan dianalisis, karena
ketrampilan bahasanya belum jelas dan pandangannya terhadap orang lain masih egosentris.
Mereka memiliki sistempandanga dan persepsi yang kompleks, tapi belum dapat menyatakan.
Perkembangan sikap “Independensi” dan kepercayaan diri (self confidence) anak amat terkait
dengan cara perlakuan orang tuanya. Sebagai orang tua, mereka memberikan perlindungan
kepada anak dari sesuatu yang membahayakan dan dari kefrustasian. Gaya perlakuan orang
tua kepada anak, ternyata sangat beragam, ada yang terlalu memanjakan, bersikap keras,
penerimaan dan kasih sayang, dan acuh tak acuh (permisif). Masing-masing perlakukan itu
cenderung memberikan dampak yang beragam bagi kepribadian anak.
Anak yang biasa dihukum karena pelanggaran biasa dengan tidak memberikan kasih
sayang atau perhatian kepadanya, maka anak tersebut cenderung lebih dependen daripada
anak yang diikuti keinginannya dengan pengasuhan atau perhatian yang cukup dari
orangtuanya dirumah, maka ia akan menuntut perhatian dari guru pada saat dia sudah masuk
TK.
Namun apabila perlindungan orang tua itu terlalu berlebihan (terlalu memanjakan)
maka anak cenderung kurang bertanggung jawab dan kurang mandiri (senantiasa meminta
bantuan kepada orang lain). Salah satu penelitian Braumbrind (Ambron, 1981) menemukan
bahwa anak yang orang tuanya memberikan pengasuhan atau perawatan yang penuh
kehangatan dan pemahaman serta memberikan arahan atau tuntunan (pemberian tugas sesuai
dengan umurnya), maka anak akan memiliki rasa percaya diri (self-confidence), bersikap
ramah, mempunyai tujuan yang jelas dan mampu mengontrol (mengendalikan) diri.
Sementara anak yang di kembangkan dalam keluarga yang memperturutkan semua keinginan
anak dan bersikap persimif, cenderung mengembangkan pribadi anak yang kurang memiliki
arah hidup yang jelas dan kurang percaya diri.
b. Initiative vs Guilt
Erik erikson mengemukakan suatu teori bahwa anak prasekolah mengalami suatu
krisis perkembangan, karena mereka menjadi kurang dependen dan mengalami konfliks
antara “Initiative dan Guilt”. Anak berkembang, baik secara fisik maupun kemampuan
intelektual serta berkembangnya rasa percaya diri untuk melakukan sesuatu. Mereka menjadi
lebih mampu mengontrol lingkungan fisik sebagaimana ia mampu mengotrol tubuhnya. Anak
mulai memahami bahwa orang lain memiliki perbedaan dengan dirinya, baik menyangkut
persepsi maupun motivasi (keinginan) dan mereka menyenangi kemampuan dirinya untuk
melakukan sesuatu.
Perkembangan ini semua mendorong lahirnya apa yang disebut Erikson
dengan initiative (inisiatif). Pada tahap ini, anak sudah siap dan berkeinginan untuk belajar
dan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuannya. Yang berbahaya pada tahap
ini, adalah tidak tersalurkannya energi yang mendorong anak untuk aktif (dalam rangka
memenuhi keinginannya), karena mengalami hambatan atau kegagalan, sehingga anak
mengalami guilt (rasa bersalah). Perasaan bersalah ini berdampak kurang baik bagi
perkembangan kepribadian anak, dia bisa menjadi nakal atau pendiam (kurang bergairah).
Faktor eksternal yang mungkin menghambat perkembangan inisiatif anak,
diantaranya :
(1) tuntutan kepada anak di luar kemampuannya,
(2) sikap keras orang tua/guru dalam memperlakukan anak,
(3) terlalu banyak larangan dan
(4) anak kurang mendapat dorongan atau peluang untuk berani
mengungkapkan perasaannya, pendapatnya atau keinginannya.
8. PERKEMBANGAN MORAL
Pada masa ini, anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap kelompok
sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan
orang lain (orang tua, saudara dan teman sebaya) anak belajar memahami tentang kegiatan
atau perilaku mana yang baik/boleh/diterima/disetujui atau buruk/tidak boleh/ditolak/tidak
disetujui. Berdasarkan pemahamannya itu, maka pada masa ini anak harus dilatih atau
dibiasakan mengenai bagaimana ia harus bertingkah laku (seperti, mencuci tangan sebelum
makan, menggosok gigi sebelum tidur dan membaca basmalah sebelum makan).
Pada saat mengenalkan konsep-konsep baik-buruk, benar-salah, atau menanamkan
disiplin pada anak, orang tua atau guru hendaknya memberikan penjelasan tentang alasannya.
Seperti:
(1) mengapa menggosok gigi sebelum tidur itu baik,
(2) mengapa sebelum makan harus memcuci tangan; atau
(3) mengapa tidak boleh membuang sampah sembarangan.
Penanaman disiplin dengan disertai alasannya ini, diharapkan akan
mengembangkan self-control atau self-discipline (kemampuan mengendalikan diri, atau
mendisplinkan diri berdasarkan kesadaran sendiri) pada anak. Apabila penanaman disiplin ini
tidak diiringi penjelasan tentang alasannya, atau bersifat doktriner, biasanya akan melahirkan
sikap disiplin buta, apalagi jika disertai dengan perlakuan yang kasar.
Pada usia pra sekolah berkembang kesadaran sosial anak, yang meliputi sikap empati,
“generosity” (murah hati) atau sikap “altruism” yaitu kepedulian terhadap kesejahteraan
orang lain. Sikap ini merupakan lawan dari egosentris atau “selfishness” (mementingkan diri
sendiri).
Hasil pengamatan terhadap anak usia pra sekolah, membuktikan bahwa mereka tidak
hanya menyadari bahwa orang lain memiliki perasaan, tetapi juga mereka aktif mencoba
untuk memahami perasaan-perasaan orang laintersebut. Contohnya, ada seorang anak berusia
2,5 tahun memberikan boneka terhadap anak lain yang sedang menangis. Ini menunjukan
pemahaman anak, tidak hanya berkaitan dengan kasih sayang dan pemeliharaan yang mereka
terima, tetapi juga berkaitan dengan pola atau gaya kedisiplinan orang tuanya (Ambron, 1981
: 340-341).
Dalam rangka membimbing perkembangan moral anak pra sekolah ini, sebaiknya orang
tua atau guru-guru TK, melakukan upaya-upaya berikut.
a. Memberikan contoh atau teladan yang baik, dalam berperilaku atau bertutur kata.
b. Menanakan kedisiplinan kepada anak, dalam berbagai aspek kehidupan, seperti
memelihara kebersihan atau kesehatan dan tata krama atau berbudi pekerti luhur.
c. Mengembangkan wawasan tentang nilai-nilai moral kepada anak, baik melalui
pemberian informasi atau melalui cerita seperti tentang : riwayat orang-orang yang baik
(para nabi dan pahlawan) dunia bintang yang mengisahkan tentang nilai kejujuran,
kedermawanan, kesetiakawanan atau kerajinan.
9. PERKEMBANGAN KESADARAN BERAGAMA
Kesadaran beragama pada usia ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Sikap keagamaannya bersifat reseptif (menerima) meskipun banyak bertanya.
b. Pandangan ketuhanannya bersifat anthropormorph (dipersonifikasikan).
c. Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka
telah melakukan atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.
d. Hal ketuhanan dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai
dengan taraf berpikirnya yang masih bersifat egosentrik (memandang segala sesuatu dari
sudut dirinya)(Abin Syamsuddin Makmun, 1996)
Pengetahuan anak tentang agama terus berkembang berkat :
(1) mendengarkan ucapan-ucapan orang tua,
(2) melihat sikap perilaku orang tua dalam mengamalkan ibadah; dan
(3) pengalaman dan meniru ucapan atau perbuatan orang tuanya.
Sesuai dengan perkembangan intelektualnya (berpikirnya) yang terungkap dalam
kemampuan berbahasa, yaitu sudah dapat membentuk kalimat, mengajukan pertanyaan
dengan kata-kata: apa, siapa, dimana, dari mana dan kemana: maka pada usia ini kepada anak
sudah dapat diajarkan syahadat, bacaan dan gerakan solat, doa-doa dan Al Quran.
Mengajarkan salat pada usia ini dalam rangka memenuhi tuntunan Rasulullah, bahwa
orang tua harus menyuruh anaknya salat pada usia tujuh tahun, “muruu auladakum bisholaat
sab’u siniin”(suruhlah anak-anakmu salat pada usia 7 tahun).
Dengan demikian, mengajarkan bacaan dan gerakan salat pada usia ini adalah dalam
rangka mempersiapkan dia untuk dapat melaksanakan salat pada usia tujuh tahun tersebut.
Adapun doa-doa yang diajarkan :
(1) doa sebelum makan dan sesudahnya,
(2) doa berangkat dari rumah,
(3) doa tidur,
(4) doa untuk orang tua,
(5) doa keselamatan/kebahagiaan di dunia dan di akherat.
Di samping mengajarkan hal-hal diatas, kepada anak pun diajarkan atau dilatihkan tentang
kebiasaan-kebiasaan melaksanakan akhlakul karimah, seperti (1) mengucapkan salam;
(2) membacakan basmalah pada saat akan mengerjakan sesuatu;
(3) membacakan hamdalah pada saat mendapatkan kenikmatan dan setelah
mengerjakan sesuatu;
(4) menghormati orang lain;
(5) memberi shodaqoh;
(6) memelihara kebersihan (kesehatan) baik dari diri sendiri maupun
lingkungan (seperti mandi, menggosok gigi, dan membuang sampah pada tempatnya).



haii?? namaku Putri Wahyuni. aku lahir pada tanggal 02 mei 2000, aku anak ke 5 dari 6 saudara. orang tuaku memiliki 3 anak laki-laki dan 3 anak perempuan termasuk aku. 

ayahku suku jawa,melayu dan ibuku suku banjar jadi aku suku jawa,melayu,banjar " banyak amat yakk" 😂😂

aku di lahirkan di keluarga yang sangat sederhana, tidak memiliki kekayaan yang berlimpah ruah,  tidak bergelut dalam dunia pekerjaan yang menjamin,serta tidak pula mempunyai banyak barang berharga.

eehh tapi jangan salah, aku punya hobby yang bisa mendatangkan uang lohh. seperti bermain gitar dan bernyanyi. aku membuat video bernyanyi dengan gitarku lalu aku upload ke youtobe dan linknya aku share ke teman-temanku agar di tonton, lalu dari hasil penonton itulah aku menabung uang.

dan aku juga salah satu siswa berpreatasi disekolah. dari kelas 2 SMP sampai kelas 3 SMA aku juara kelas dan di bebaskan dari biaya SPP sehingga dapat mengurangi beban keluarga.

setelah tamat SMA aku diterima di salah satu perusahaan yang terdapat di kecamatan teluk belengkong. nama perusahaannya PT.T**P (memproduksi minyak dari kelapa sawit). aku bekerja sebagai krani afdeling. tujuanku bekerja disana, aku ingin mengumpulkan uang untuk daftar kuliah nah setelah 4 bulan bekerja aku dapat mengumpulkan uang sekitar 5,5 jt akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja dan mendaftar di universitas lancang kuning. setelah mendaftar, aku juga mengejar beasiswa di universitas lancang kuning dengan semua sertifikat yang aku punya dan dengan beberapa test, dan alhamdulillah aku lulus. bahagiaaa banget rasanya kalo bisa meringankan beban orang tua. auto loncat-loncat saking bahagianya 😂😂😂

aku tidak pernah menyalahkan takdir kenapa hidup keluargaku seperti ini, setidaknya aku akan merubah arah takdir dan menciptakan kebahagiaan di keluargaku 😇

oh iya terakhir nih, 
harapan aku kedepan, aku ingin jadi youtober sekaligus guru favorit di sekolah, aku ingin membanggakan kedua orang tua, membuat mereka bersantai dimasa tuanya tanpa harus membanting tulang, jadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, berguna bagi orang disekeliling, berguna bagi bangsa dan agama, menciptakan lapangan kerja dan sukses dimasa depan.
sebenarnya banyak si harapan lainnya yang udah aku tulis di buku harapanku tapi kalo di tulis disini bakalan panjang banget 😂😂

sampai disini dulu background dari seorang putri wahyuni
assalamu'alaikum

data and result of paraphrase (putri wahyuni)

1.   data According to the Press Council, in Indonesia there are around  43,000  sites in Indonesia that claim to be news portals. Of this...

- Copyright © ingin tau - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -